[ad_1]
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5365896/original/038624400_1759209807-VJBQ2SzBTK.jpg)
Wudhu adalah salah satu bentuk thaharah (bersuci) dari hadas kecil yang menjadi syarat sah shalat. Tanpa wudhu, shalat tidak sah karena tidak memenuhi syarat kesucian. Sejarahnya, wudhu disyariatkan bersamaan dengan kewajiban shalat pada peristiwa Isra’ Mi’raj, sebagai bentuk persiapan jasmani dan rohani dalam bermunajat kepada Allah SWT.
Dasar hukum wudhu terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 6, yang secara jelas memerintahkan orang beriman untuk berwudhu sebelum melaksanakan shalat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
Yā ayyuhalladzīna āmanū idzā qumtum ilash-shalāti faghhsilū wujūhakum wa aydiyakum ilal-marāfiqi wamsahū biru’ūsikum wa arjulakum ilal-ka‘bain
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, sapulah kepalamu, dan basuhlah kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al-Māidah: 6)
Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya wudhu melalui hadis:
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طَهُورٍ
Lā yaqbalu-llāhu shalātan bighayri thahūr
“Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
Lā yaqbalu-llāhu shalāta aḥadikum idzā aḥdatsa ḥattā yatawaḍḍa’a
“Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kalian bila berhadas, sampai ia berwudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, wudhu bukan sekadar ritual bersuci, tetapi juga merupakan bentuk persiapan ruhani untuk menghadirkan kekhusyukan dan kesucian dalam beribadah.
[ad_2]