Raksasa otomotif asal Jepang, Subaru Corporation, secara mengejutkan mengumumkan penundaan tanpa batas waktu terhadap peluncuran empat model kendaraan listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) yang dikembangkan secara mandiri.
Langkah strategis ini menandai pergeseran besar dalam peta jalan perusahaan yang semula menargetkan peluncuran model-model tersebut pada tahun 2028.
Keputusan ini diambil menyusul tren penurunan permintaan mobil listrik di pasar Amerika Serikat, yang diperparah oleh perubahan arah kebijakan di bawah pemerintahan Donald Trump yang kini cenderung lebih longgar terhadap regulasi emisi.
Subaru kini dilaporkan telah menghapus jadwal peluncuran keempat model BEV tersebut dan tengah meninjau ulang seluruh program pengembangan kendaraan listriknya secara menyeluruh.
Alih-alih memaksakan diri di segmen listrik murni, perusahaan memutuskan untuk mengalihkan sumber daya manajemennya demi memperkuat pengembangan kendaraan hybrid (Hybrid Electric Vehicle/HEV) dan kendaraan bermesin bensin konvensional.
Selama ini, Subaru memang masih bergantung pada kemitraan teknis dengan Toyota Motor dalam memproduksi mobil listrik, seperti pada model SUV Solterra yang berbagi platform dengan Toyota bZ4X, sehingga pembatalan platform mandiri ini menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan memilih bermain aman di tengah ketidakpastian pasar global.
Presiden Subaru, Atsushi Osaki, dalam keterangannya setelah merilis laporan laba tahun fiskal 2025, mengungkapkan bahwa kecepatan penetrasi mobil listrik di pasar Amerika Serikat yang merupakan wilayah penjualan utama mereka telah melambat secara signifikan.
Ia menegaskan bahwa pihak perusahaan akan terus memantau kondisi pasar dengan sangat hati-hati sebelum menentukan waktu yang tepat untuk memperkenalkan kembali teknologi tersebut di masa depan.
Pernyataan ini mencerminkan sikap pragmatis pabrikan dalam menghadapi realitas ekonomi dan preferensi konsumen yang mulai kembali melirik kendaraan dengan mesin pembakaran internal atau kombinasi bensin-listrik.
Dampak dari kebijakan baru ini juga merambah pada sektor infrastruktur manufaktur mereka. Pabrik baru Subaru yang berlokasi di Oizumi, Prefektur Gunma, yang awalnya dibangun khusus untuk memproduksi mobil listrik mandiri mulai tahun 2027, kini dialihkan fungsinya untuk memproduksi kendaraan bermesin bensin.
Meskipun lini produksi mobil listrik tetap bisa ditambahkan di kemudian hari jika kondisi pasar membaik, namun prioritas saat ini sepenuhnya bergeser pada unit pembakaran internal.
Meski mengubah arah pengembangan produk, Subaru mengonfirmasi bahwa rencana investasi jumbo senilai 1,2 triliun Yen atau sekitar Rp121 triliun tetap tidak berubah, namun dana tersebut akan dialokasikan ulang untuk memperkuat departemen lain guna mendukung strategi jangka pendek perusahaan.