[ad_1]
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5373696/original/041575300_1759827898-Screenshot_2025-10-07_155001.jpg)
1. Kelebihan berat badan
Mengutip situs resmi Siloam Hospital, lemak berlebih di sekitar leher dapat menekan saluran pernapasan, membuat udara sulit mengalir dengan lancar saat tidur. Kondisi ini menyebabkan jaringan di tenggorokan bergetar lebih kuat dan menimbulkan suara ngorok.
2. Posisi tidur yang salah
Tidur telentang sering membuat lidah dan jaringan lunak di tenggorokan jatuh ke belakang, menyempitkan saluran udara. Akibatnya, udara yang keluar masuk tidak stabil dan menghasilkan dengkuran.
3. Kelelahan atau kurang tidur
Tubuh yang terlalu lelah menyebabkan otot tenggorokan menjadi lebih rileks dari biasanya. Ketika hal ini terjadi, getaran di area saluran napas meningkat dan memicu suara ngorok.
4. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol
Nikotin dan alkohol dapat membuat otot tenggorokan melemah serta mengiritasi dinding saluran napas. Dampaknya, pernapasan menjadi tidak lancar dan suara dengkuran lebih mudah muncul.
5. Masalah pada hidung atau tenggorokan
Penyumbatan hidung akibat flu, alergi, atau sinusitis bisa mengganggu aliran udara. Begitu juga dengan kelainan anatomi seperti amandel besar atau deviasi septum yang membuat saluran napas menyempit.
6. Penuaan alami
Seiring bertambahnya usia, otot tenggorokan cenderung kehilangan kekuatannya dan menjadi lebih longgar. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan jaringan bergetar saat tidur dan menimbulkan ngorok.
7. Sleep apnea
Sleep apnea adalah gangguan tidur yang menyebabkan henti napas sesaat berulang kali di malam hari. Saat udara kembali mengalir, tubuh memproduksi suara keras menyerupai ngorok sebagai respons untuk bernapas kembali.
[ad_2]