Indonesia memiliki sejumlah kawasan yang dalam perjalanan sejarahnya pernah dikenal sebagai pusat prostitusi dan hiburan malam. Nama-nama seperti Sarkem, Kalijodo, hingga Gang Dolly bahkan sempat begitu lekat dengan kehidupan malam di kota masing-masing.
Namun, perkembangan zaman dan kebijakan pemerintah membuat wajah kawasan-kawasan tersebut berubah. Ada yang ditata secara bertahap, ada pula yang ditutup secara resmi dan dialihfungsikan menjadi ruang publik maupun sentra ekonomi warga.
Berikut tiga kawasan prostitusi terkenal di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dan mengalami perubahan besar.
1. Sarkem, Yogyakarta
Pasar Kembang atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sarkem berada di kawasan Jalan Pasar Kembang, Sosromenduran, Kemantren Gedongtengen, Kota Yogyakarta. Kawasan ini terletak tidak jauh dari Stasiun Tugu dan selama puluhan tahun memiliki citra yang erat dengan kehidupan malam.
Menariknya, nama Pasar Kembang pada awalnya tidak berkaitan dengan prostitusi. Kawasan tersebut dikenal sebagai tempat perdagangan bunga yang digunakan untuk keperluan ziarah maupun upacara adat. Aktivitas perdagangan bunga kemudian dipindahkan ke kawasan Kotabaru pada dekade 1960-an.
Sejarah aktivitas prostitusi di kawasan ini disebut telah berkembang sejak era kolonial Belanda pada akhir abad ke-19. Kehadiran Stasiun Tugu yang dibangun pada 1884 serta meningkatnya aktivitas masyarakat dan pendatang turut mendorong berkembangnya penginapan dan tempat hiburan di kawasan tersebut.
Sosrowijayan kemudian berkembang dengan karakter yang berbeda di setiap gang. Gang 1 dan Gang 2 lebih dikenal sebagai kawasan penginapan murah atau homestay bagi wisatawan. Sementara itu, Gang 3 secara historis berkembang sebagai salah satu kantong lokalisasi.
Berbeda dengan Kalijodo dan Gang Dolly, kawasan ini tidak mengalami penggusuran total. Penanganan dilakukan secara bertahap melalui penataan lingkungan, pengawasan kesehatan, serta intervensi sosial yang melibatkan pemerintah dan masyarakat.
Saat ini, kawasan Sosrowijayan juga diarahkan untuk mempertahankan fungsi sebagai lingkungan permukiman sekaligus kawasan yang memiliki nilai sejarah dan wisata.
2. Kalijodo, Jakarta
Jika berbicara tentang kawasan prostitusi yang mengalami perubahan paling drastis, Kalijodo menjadi salah satu contoh yang paling menonjol.
Kawasan yang berada di perbatasan Jakarta Utara dan Jakarta Barat, tepatnya di sekitar aliran Kali Angke, mulai berkembang sebagai tempat pertemuan dan hiburan masyarakat sejak dekade 1950-an.
Seiring waktu, Kalijodo berkembang menjadi kawasan hiburan malam yang juga dikenal dengan aktivitas prostitusi dan perjudian. Kawasan tersebut kemudian menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian besar pemerintah daerah.
Momentum penutupan Kalijodo terjadi pada 2016. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok melakukan penertiban kawasan tersebut.
Kebijakan itu mendapat perhatian luas setelah kecelakaan maut pada awal Februari 2016 yang melibatkan pengemudi dalam kondisi mabuk. Pengemudi diketahui sempat beraktivitas di kawasan Kalijodo sebelum kecelakaan.
Pada 29 Februari 2016, proses penertiban dan pembongkaran bangunan dilakukan menggunakan alat berat. Warga yang memenuhi persyaratan dipindahkan ke sejumlah rumah susun, termasuk Rusun Marunda dan Pulo Gebang.
Transformasi kawasan tersebut berlangsung secara menyeluruh. Area yang sebelumnya identik dengan kehidupan malam kemudian ditata menjadi ruang publik.
Bekas kawasan Kalijodo kini dikenal sebagai ruang terbuka yang dilengkapi berbagai fasilitas masyarakat. Area tersebut memiliki taman bermain anak, ruang terbuka hijau, lapangan olahraga, hingga skatepark.
Perubahan tersebut membuat wajah Kalijodo sangat berbeda dibandingkan masa ketika kawasan itu dikenal sebagai salah satu pusat hiburan malam Jakarta.
3. Gang Dolly, Surabaya
Nama Gang Dolly pernah menjadi salah satu kawasan prostitusi yang paling terkenal di Indonesia. Lokasinya berada di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur.
Kawasan tersebut disebut mulai berkembang sekitar 1967. Namanya dikaitkan dengan seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal masyarakat dengan sebutan Tante Dolly.
Dari beberapa rumah wisma, kawasan ini berkembang menjadi kompleks prostitusi dalam skala besar. Gang Dolly bahkan pernah dikenal sebagai salah satu kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara, bersama kawasan lokalisasi Jarak yang berada di sekitarnya.
Perjalanan Gang Dolly berubah drastis ketika Pemerintah Kota Surabaya mengambil kebijakan penutupan lokalisasi pada 18 Juni 2014.
Kebijakan tersebut berada di bawah kepemimpinan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Pemerintah daerah mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Sosial.
Penutupan dilakukan dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan penggusuran kawasan Kalijodo. Pemerintah tidak meratakan seluruh permukiman warga, melainkan mencabut izin usaha wisma prostitusi dan melakukan pembebasan terhadap sejumlah bangunan wisma.
Mantan pekerja seks komersial dan muncikari juga mendapatkan sejumlah program pendampingan, termasuk pembekalan keterampilan dan bantuan kompensasi.
Setelah lokalisasi ditutup, kawasan Putat Jaya diarahkan menuju kegiatan ekonomi yang lebih produktif. Sejumlah bangunan bekas wisma dialihfungsikan menjadi lokasi kegiatan UMKM, sentra kerajinan, usaha sepatu dan konveksi, hingga fasilitas pendidikan.
Transformasi tersebut membuat kawasan yang dahulu dikenal karena aktivitas prostitusi memiliki wajah baru sebagai lingkungan permukiman dengan kegiatan ekonomi kreatif.
Dari Kawasan Malam Menjadi Ruang Publik
Kisah Sarkem, Kalijodo, dan Gang Dolly menunjukkan bahwa sebuah kawasan dapat mengalami perubahan fungsi yang sangat besar seiring perubahan kebijakan dan kondisi sosial masyarakat.
Ketiganya memang memiliki sejarah yang berbeda. Sarkem mengalami penataan secara bertahap tanpa penggusuran total, sedangkan Kalijodo ditutup dan ditata menjadi ruang publik. Sementara itu, Gang Dolly ditutup melalui kebijakan lokalisasi dan dilanjutkan dengan program pemberdayaan masyarakat.
Perubahan tersebut juga memperlihatkan bahwa penanganan kawasan prostitusi tidak selalu berhenti pada penutupan. Pemerintah perlu menentukan fungsi baru kawasan serta menyiapkan alternatif ekonomi bagi masyarakat yang sebelumnya menggantungkan kehidupan dari aktivitas di dalamnya.
Kini, ketiga kawasan tersebut memiliki wajah yang jauh berbeda dari masa lalu. Di tengah perubahan itu, sejarahnya tetap menjadi bagian dari perjalanan sosial masing-masing kota.