Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang mengkhawatirkan bagi industri otomotif dan teknologi global. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara terang-terangan mengeluarkan ancaman akan menyerang 18 perusahaan raksasa asal Amerika Serikat, di mana raksasa mobil listrik Tesla masuk dalam daftar target utama.
Ancaman ini muncul sebagai bentuk retribusi atas tewasnya pemimpin militer Iran, Brigadir Jenderal Jamshid Eshaghi, dalam serangan yang dituduhkan kepada pihak AS dan Israel. Melalui saluran resmi Sepah News, IRGC menyatakan bahwa setiap kematian pemimpin militer mereka akan dibalas dengan “penghancuran satu perusahaan AS.”
Masuknya nama Tesla dalam daftar target ini tergolong unik dibandingkan perusahaan teknologi lain seperti Google, Meta, atau Microsoft yang mayoritas berbasis pusat data. Tesla memiliki jejak fisik yang sangat terbuka dan mudah diakses publik di kawasan Teluk, yang kini justru menjadi titik kerentanan tinggi.
Hingga April 2026, ekspansi global Elon Musk di kawasan Timur Tengah melalui Tesla menunjukkan perkembangan signifikan dengan kehadiran infrastruktur yang semakin luas. Di Uni Emirat Arab, Tesla telah mengoperasikan berbagai fasilitas di kota-kota utama seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Sharjah, termasuk jaringan Supercharger yang tersebar di lokasi strategis seperti Dubai Mall dan Yas Mall.
Sementara itu di Arab Saudi, Tesla telah menghadirkan Tesla Center di Riyadh dan Jeddah, serta pusat layanan di Dammam yang didukung oleh sekitar 48 titik pengisian daya.
Adapun di Qatar, Tesla memperkuat kehadirannya melalui pengembangan infrastruktur pengisian daya di Doha, sekaligus membuka pusat penjualan untuk model Tesla Cybertruck yang mulai diperkenalkan di pasar tersebut sejak tahun lalu.
IRGC menuduh perusahaan-perusahaan ini membantu operasi militer AS melalui penyediaan kecerdasan buatan (AI), teknologi komunikasi, dan pemetaan target.
Deadline 1 April
Pemerintah Iran memberikan peringatan keras yang berlaku mulai Rabu malam, 1 April 2026, pukul 20.00 waktu Teheran. Mereka mendesak seluruh karyawan perusahaan terkait untuk segera meninggalkan tempat kerja.
“Karena elemen utama dalam merancang dan melacak target teroris adalah perusahaan ICT dan AI Amerika… mulai sekarang, institusi-institusi ini akan menjadi target sah kami,” bunyi pernyataan resmi IRGC sebagaimana dilaporkan The Hill.
Bahkan, warga sipil yang berada dalam radius 1 kilometer dari fasilitas perusahaan-perusahaan tersebut diperingatkan untuk segera mengevakuasi diri demi keselamatan.
Ketidakstabilan regional ini mulai berdampak langsung pada operasional harian. Sebagai langkah darurat, Tesla dilaporkan telah mengaktifkan fitur Free Supercharging (pengisian daya gratis) di lebih dari 30 stasiun pengisian di wilayah terdampak untuk memudahkan mobilitas pengguna di tengah situasi krisis.