Dalam episode terbaru program Jakarta Journey dari Mashable Indonesia, penyanyi sekaligus aktris Maudy Ayunda berbagi cerita panjang lewat obrolan santai sambil berkeliling Jakarta.
Bukan sekadar promosi, sesi ini mengupas sisi personal Maudy mulai dari masa kecil, tekanan menjadi publik figur sejak usia dini, hingga pandangannya tentang hidup.
Maudy mengawali obrolan dengan mengungkap kedekatannya dengan Jakarta, khususnya kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Ia lahir dan besar di ibukota, meski sempat sering pindah rumah di masa TK hingga SD.
“Masa kecil aku di sini nih, ” ujar Maudy sambil menunjukkan sebuah gang di Kemang. Ia menyebut kawasan Kemang dan Cilandak sebagai bagian Jakarta yang paling sentimental.
“Sentimental buat aku itu Kemang, Jakarta Selatan. Sama Cilandak juga, Cipete. Karena kita juga sempat lama tinggal di situ. “
Menurut Maudy, tumbuh besar di Jakarta terasa sangat dinamis. Namun, ia membagi pengalamannya dalam dua fase yang sangat berbeda: saat masih bersekolah dan saat sudah bekerja sebagai penyanyi sejak SMA.
“Kalau waktu aku masih kecil, hidup lumayan bubble. Kita sekolah, pulang ke rumah. Tapi begitu udah mulai kerja, Jakarta sebagai pekerja itu jauh lebih hektik dan berat dibandingkan sebagai anak yang masih bersekolah. “
Aktris yang juga dikenal sebagai penulis lagu ini mengaku sering terinspirasi oleh suasana Jakarta. Dua lagunya, “Jakarta Ramai” dan “Puisi Kota”, lahir dari kontras kehidupan di ibukota.
“Menurut aku, kalau hidup di kota, kita selalu merasakan kontras. Di satu sisi mungkin kita ngerasa sendiri, lagi pulang kantor, tapi ada keramaian. Jakarta dan seluruh warnanya itu mengikuti proses krisis identitas setiap orang, ” tuturnya.
Maudy yang juga pernah kuliah di Stanford University, Amerika Serikat, membandingkan dinamika Jakarta dengan Palo Alto, California, Amerika Serikat. Menurutnya, perbedaan paling mencolok ada pada iklim, polusi, dan kecepatan hidup.
“Pace-nya Jakarta tuh cepat banget. Sementara Palo Alto lebih kayak kota mahasiswa, enggak terlalu sibuk dan bising. Tapi di sisi lain, keragaman aktivitas orang di Jakarta itu yang bikin seru. “
Salah satu topik yang turun mencuat adalah soal polusi udara di Jakarta. Maudy menyebut ini sebagai masalah utama yang sangat tidak baik. Ia juga berbagi pengalaman unik tentang belajar mengemudi di Jakarta.
“Hari pertama aku jemput suami aku, aku nyetir. Waktu itu Google Maps-nya ngarahin ke gang kecil. Dia langsung respect banget sama aku yang tadinya dia ngira aku enggak bisa nyetir. Di US nyetirnya based on rules, tapi di sini based on intuition. “
Work Ethic Sejak Kecil
Maudy mengakui bahwa ia mulai bekerja sejak usia 9 tahun untuk film pertama, dan merilis album pertama di usia 14 tahun. Kebiasaan ini membentuk etos kerja yang kuat dan literasi finansial sejak dini. Namun, ada harga yang harus dibayar.
“Downside-nya adalah aku enggak terlalu banyak kesempatan main. Waktu untuk downtime dan sosial cenderung kurang. Aku juga sempat ngerasa kayak ‘I cannot make a mistake’ karena udah punya spotlight sejak kecil. Itu jadi pressure juga buat anak belasan tahun. “
Ia juga mengungkapkan bahwa orang tuanya tidak pernah memberikan tekanan nilai di sekolah. “Mama papa tuh cenderung enggak ada pressure. Jadi aku ngerasa sekolah itu dunia aku sendiri. Seru aja. “
Meski dikenal sebagai storyteller lewat karya-karyanya, Maudy justru mengaku lebih baik sebagai pendengar.
“Aku tuh suka banget dengerin orang cerita. Aku jadi orang yang selalu dicurhatin. I think I’m a better listener than a storyteller. Storyteller itu lebih kayak aspirasi, siapa yang ingin aku jadi. “
Maudy juga membahas film terbarunya, “Para Perasuk”, yang sudah mendapat penghargaan di Busan. Ia mengaku menerima proyek ini bahkan sebelum membaca naskah, karena terpikat oleh presentasi sutradara Regas.
“Dia bercerita dengan passion dan visual. Di situ aku udah merasa tergerak. Pas baca skenario pertama, aku masih bingung ‘ini gimana dieksekusi ya?’ “
Untuk film ini, Maudy berlatih tarian yang mewakili 10 roh binatang. Latihan fisik berlangsung intens selama 2 hingga 3 bulan.
“Banyak tarian yang very close to the ground. Jongkok, tiduran. Kata koreografer, makin rendah tarian, makin capek. Aku sempat panik soal cedera dengkul karena gerakannya ekstrem. “
Ia menjelaskan bahwa “Para Perasuk” bergenre drama dengan elemen supernatural, fantasi, dan sedikit psikologis. “Bukan horor. Tapi bikin kamu nahan napas selama 2 jam. “
Menjelang akhir obrolan, Maudy mendapat pertanyaan khas Jakarta Journey yaitu ingin dikenang sebagai apa ketika suatu ‘hari itu’ datang?
“Aku enggak tahu. Mungkin sebagai manusia yang hidupnya penuh karya dan bermanfaat. Tapi sekarang aku enggak terlalu mikirin legacy. The nature of life, kalaupun kita dikenang, paling 100-200 tahun. “
Ia menutup dengan kalimat yang cukup menghentak: “We’re all just kind of meant to be here to live and then eventually be forgotten. I just wanna make sure during my time here, I show up as my best self dan bisa bermanfaat, berkarya, dan berbagi energi sama banyak orang. “
&t=122s