Perayaan Hari Tari Sedunia yang digagas Bakti Budaya Djarum Foundation terus berlanjut sepanjang Mei 2026 melalui berbagai pertunjukan budaya di Galeri Indonesia Kaya.
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah Tari Obah Gerabah persembahan Sanggar Seni Lemah Urip, yang mengangkat kehidupan para pengrajin gerabah di kawasan Borobudur melalui perpaduan tari, musik, dan eksplorasi artistik berbasis budaya lokal.
Pertunjukan yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Hari Tari Sedunia ini menghadirkan kisah tentang kehidupan masyarakat pengrajin gerabah yang hidup berdampingan dengan alam dan menjaga tradisi secara turun-temurun.
Melalui gerak tari yang dinamis, iringan musik tradisional, hingga penggunaan properti gerabah di atas panggung, pertunjukan ini menyampaikan pesan mengenai semangat gotong royong, ketekunan, dan perjuangan masyarakat dalam mempertahankan warisan budaya di tengah perubahan zaman.
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan bahwa rangkaian perayaan Hari Tari Sedunia memang dirancang untuk menjadi ruang apresiasi bagi komunitas seni dan budaya dari berbagai daerah di Indonesia.
“Perayaan Hari Tari Sedunia tidak berhenti pada satu momentum saja. Melalui rangkaian pertunjukan sepanjang Mei di Galeri Indonesia Kaya, kami ingin menghadirkan ruang apresiasi bagi ragam tari dan komunitas seni yang terus menjaga tradisi di tengah masyarakat.”
“Menghadirkan Tari Obah Gerabah oleh Sanggar Seni Lemah Urip menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap pelaku budaya yang menjaga tradisi melalui karya seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Renitasari Adrian.
Dalam pertunjukan tersebut, gerabah tidak hanya berfungsi sebagai elemen visual, tetapi juga menjadi simbol kehidupan masyarakat.
Bagi warga di sekitar Borobudur, gerabah merupakan sumber penghidupan utama yang diwariskan lintas generasi. Proses panjang pembuatan gerabah, mulai dari pengolahan tanah liat hingga pembakaran, menjadi inspirasi utama dalam penciptaan karya tari ini.
Tari Obah Gerabah dibawakan oleh 13 penampil yang terdiri dari penari anak-anak hingga dewasa, termasuk para pemusik yang memanfaatkan bunyi-bunyian dari gerabah sebagai elemen musikal utama.
Penonton pun diajak terlibat langsung memainkan alat musik berbahan gerabah sehingga menciptakan pengalaman pertunjukan yang lebih interaktif dan emosional.
Koreografer pertunjukan, Derra Kartika, menjelaskan bahwa karya berdurasi sekitar 60 menit tersebut dirancang untuk memperlihatkan bagaimana gerabah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Melalui Tari Obah Gerabah, kami ingin menunjukkan bahwa gerabah bukan sekadar benda kerajinan, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat yang menjadi sumber penghidupan keluarga secara turun-temurun.”
“Kami berharap pertunjukan ini dapat membuat masyarakat lebih mengenal perjuangan para pengrajin sekaligus memahami pentingnya menjaga tradisi agar tetap hidup dan relevan,” kata Derra.
Selain memadukan unsur tari tradisional dan teatrikal, pertunjukan ini juga menampilkan tata kostum yang terinspirasi dari keseharian para pengrajin gerabah.
Unsur musik gamelan dipadukan dengan ritme dentingan gerabah sehingga menghasilkan nuansa pertunjukan yang khas dan kuat menggambarkan kehidupan masyarakat pedesaan di kawasan Borobudur.
Sanggar Seni Lemah Urip sendiri dikenal sebagai komunitas seni yang aktif memberikan pendidikan non-formal gratis kepada masyarakat, terutama anak-anak. Berbasis di Desa Karanganyar, Kecamatan Borobudur, komunitas ini memiliki tiga kelas utama yakni Sekolah Gerabah, Kelas Tari Gerabah, dan Kelas Musik Gamelan.
Pendiri Sanggar Seni Lemah Urip, Muhammad Jafar atau yang akrab disapa Jepe, menuturkan bahwa seni bagi masyarakat Borobudur bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas budaya yang harus terus diwariskan.
“Di Sanggar Seni Lemah Urip, kami ingin menciptakan ruang belajar yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Gerabah, tari, dan gamelan bukan hanya kesenian bagi kami, tetapi bagian dari identitas dan keseharian warga yang perlu terus dijaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Jepe.
Komitmen sanggar tersebut dalam menjaga budaya juga terlihat dari keterlibatan mereka dalam berbagai program berbasis komunitas di kawasan Borobudur.
Mereka tercatat menjadi bagian dari program UNESCO Borobudur Youth Engage yang berfokus pada pemberdayaan generasi muda dan pelestarian warisan budaya lokal.
Selain itu, Sanggar Seni Lemah Urip juga aktif terlibat dalam Festival Gerabah sejak 2019 hingga 2025 serta tampil dalam Festival Lampion Waisak Nasional 2025 melalui pertunjukan Lakuning Tanah.
Tari Obah Gerabah menjadi salah satu dari rangkaian pertunjukan seni yang dihadirkan Galeri Indonesia Kaya sepanjang Mei 2026.
Sebelumnya, ruang budaya tersebut telah menampilkan pertunjukan “Penari Petani” oleh EkosDance Company, “Lintas Generasi Tari Topeng Losari” oleh Sanggar Purwa Kencana Nani Topeng Lestari, serta “Galodo” oleh Jagatari.
Rangkaian perayaan Hari Tari Sedunia dijadwalkan berlanjut melalui pertunjukan “Tamasya di Medan Terliar” oleh DRKR Kolektif pada 30 Mei 2026 mendatang.
Sebagai ruang publik berbasis digital yang diinisiasi Bakti Budaya Djarum Foundation, Galeri Indonesia Kaya terus menghadirkan berbagai pertunjukan seni dan budaya secara gratis setiap akhir pekan.
Ruang budaya yang berada di kawasan Grand Indonesia, Jakarta, itu telah menjadi salah satu pusat apresiasi seni modern yang memadukan teknologi digital dengan kekayaan budaya Nusantara.