Ajang kompetisi sains dan matematika bertajuk Einstein Generation 2026 kembali digelar oleh Einstein Science Project.
Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026 di Museum Listrik dan Energi Baru (MLEB) yang berada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah.
Melalui ajang ini, Einstein Science Project ingin menumbuhkan minat anak terhadap dunia Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika atau STEM melalui metode belajar yang menyenangkan.
Einstein Generation 2026 menjadi salah satu agenda tahunan penting yang dirancang khusus untuk siswa dari sekolah-sekolah yang telah bekerja sama dengan Einstein Science Project.
Tahun ini, kompetisi diikuti total 72 peserta tingkat Sekolah Dasar (SD) yang terbagi ke dalam dua kategori utama, yaitu Olimpiade Sains dan Olimpiade Matematika.
Sebanyak 32 siswa mengikuti kategori Olimpiade Sains, sementara 40 peserta lainnya bersaing dalam Olimpiade Matematika. Kompetisi ini dibagi berdasarkan kelompok usia guna memastikan proses penilaian berjalan lebih adil dan sesuai dengan kemampuan peserta.
Untuk kategori Olimpiade Sains, peserta dibagi ke dalam Group Age A untuk siswa kelas 2 dan 3 SD, serta Group Age B bagi siswa kelas 4 dan 5 SD. Sementara pada Olimpiade Matematika, Group Age A diperuntukkan bagi siswa kelas 3 SD dan Group Age B untuk siswa kelas 4 SD.
Einstein Generation 2026 Hadir Lebih Inovatif Dibanding Tahun Sebelumnya
Gita Hediani, Ketua Pelaksana Einstein Generation 2026 menjelaskan bahwa Einstein Generation tahun ini membawa sejumlah pembaruan dibanding penyelenggaraan pertama pada 2025 lalu.
“Untuk Einstein Generation sendiri, yang pertama itu kita lakukan di tahun 2025 hanya melakukan olimpiade sainsnya saja, jadi ada pengerjaan eksperimen dan pengerjaan soal. Nah, untuk tahun ini kita tidak hanya sains, tapi juga menyelenggarakan olimpiade matematika,” ujar Gita.
Selain menghadirkan kategori matematika, Einstein Generation 2026 juga menambah tantangan eksperimen sains yang lebih interaktif dan aplikatif untuk anak-anak usia dini.
Anak SD Diajak Rakit Flashlight hingga Motor Listrik
Salah satu daya tarik utama dalam kompetisi ini adalah adanya eksperimen praktik langsung yang disesuaikan dengan usia peserta.
Untuk peserta kelas 2 dan 3 SD di grup HA, anak-anak diminta merakit flashlight atau lampu senter sederhana. Sementara peserta grup HB dari kelas 4 dan 5 SD ditantang membuat prototipe eco-ride motorcycle atau motor listrik sederhana.
Menurut Gita, konsep tersebut dibuat agar anak-anak dapat memahami sains melalui pengalaman langsung, bukan hanya teori di dalam kelas.
“Untuk tim yang eksperimen, untuk tahun ini itu akan merakit eksperimen. Eksperimennya itu untuk grup HA, kelas 2 dan 3, itu merakit eksperimen flashlight. Kemudian untuk yang grup HB, yang kelas 4 dan 5, itu merakit eksperimen eco-ride motorcycle, jadi membuat motor listrik,” jelasnya.

Setelah menyelesaikan eksperimen, para peserta juga diminta mengerjakan lembar observasi dan melakukan presentasi di hadapan dewan juri yang kompeten.
Einstein Science Project Ingin Anak Indonesia Semakin Dekat dengan STEM
Lebih dari sekadar kompetisi, Einstein Generation 2026 memiliki misi jangka panjang untuk menumbuhkan minat anak terhadap STEM atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics.
“Einstein Generation ini memang kita selenggarakan untuk menciptakan generasi yang suka sains dan matematika. Dengan cara ber-eksperimen sains yang menyenangkan. Jadi diharapkan mereka suka, mereka senang, menggemari dulu,” kata Gita.

Ia berharap metode belajar interaktif seperti ini dapat membantu anak-anak lebih mudah memahami konsep pelajaran sekaligus membangun rasa percaya diri mereka dalam dunia akademik.
Einstein Generation juga diharapkan menjadi pintu awal bagi siswa untuk mengikuti kompetisi sains dan matematika tingkat nasional hingga internasional.
“Mungkin Einstein Generation ini bisa menjadi langkah awal mereka sebagai persiapan di Olimpiade Nasional ke depan nanti. Jadi keberaniannya sudah dimulai dulu, dan motorik serta pemahaman konsepnya sudah dilatih dulu,” ungkap Gita.
Saat ini peserta masih berasal dari sekolah yang bekerja sama dengan Einstein Science Project. Namun ke depan, pihak penyelenggara membuka kemungkinan agar kompetisi ini bisa diikuti peserta dari lebih banyak sekolah secara lebih luas.
MLEB Hadirkan Wisata Edukasi dengan 600 Alat Peraga Interaktif
Dalam mendukung pembelajaran STEM yang lebih menarik, Museum Listrik dan Energi Baru (MLEB) sebagai tempat penyelenggaraan juga menghadirkan berbagai fasilitas edukatif modern di lokasi acara.
Mita Rohmayani S.Kom, selaku Marketing MLEB menjelaskan bahwa museum tersebut memiliki sekitar 600 alat peraga interaktif yang bisa digunakan pengunjung dari berbagai usia.
“Karena di sini kita punya 600 alat peraga interaktif, dan punya kurang lebih 25 pemandu, jadi setiap kunjungan ke sini itu pasti dipandu sama pemandu,” ujar Mita Rohmayani.
Tidak hanya itu, MLEB juga menawarkan pengalaman belajar interaktif melalui teater mini, robot show, hingga teknologi VR yang mulai dikembangkan.
“Kalau misalnya museum itu kan rata-rata kuno dan sebagainya, apalagi belajar gitu ya, itu kurang minatnya, makanya kita tambahin kayak robot show atau alat interaktif yang modern jadi mengundang minat para pengunjung,” tambahnya.
Dengan kombinasi kompetisi edukasi dan wisata STEM modern, Einstein Generation 2026 diharapkan mampu menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan generasi Alfa Indonesia yang lebih dekat dengan sains, teknologi, dan inovasi masa depan.