LEBIH dari seribu tabung gas elpiji terdistribusi masuk ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu (17/5). Namun, hal itu belum sepenuhnya menjawab keresahan masyarakat terkait kelangkaan dan tingginya harga gas yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Manggarai Barat, Adrianus Ojo, menyebut distribusi elpiji mulai masuk ke sejumlah distributor dan toko di Labuan Bajo.
“Selamat malam pimpinan. Izin melaporkan barang elpiji yang masuk hari ini,” jelas Adrianus, Senin (18/5).
Data Dinas Perindustrian dan. perdagangan menyebut PT. SUM menerima 616 tabung LPG dengan harga jual mencapai Rp375 ribu per tabung. Sementara Toko Metro menerima 450 tabung, dengan empat tabung dilaporkan rusak. Harga jual di tingkat toko berkisar Rp375 ribu hingga Rp385 ribu per tabung.
Selain pasokan yang telah masuk, dua kontainer elpiji juga masih dalam proses bongkar muat di Pelabuhan Rangko melalui Ambra Kargo. Salah satunya milik PT PAS selaku agen resmi yang membawa 399 tabung ukuran 12 kilogram dan 60 tabung ukuran 50 kilogram.
“Harga sebelumnya tercatat Rp320 ribu per tabung, namun hingga kini belum ada informasi terbaru terkait penyesuaian harga,” kata Adrianus
Sementara itu, Toko Hasil dilaporkan membawa 600 tabung elpiji ukuran 12 kilogram dengan harga jual mencapai Rp350 ribu per tabung.
Meski pasokan mulai berdatangan, kondisi tingginya harga elpiji di Labuan Bajo menuai sorotan masyarakat. Warga menilai pemerintah daerah terlambat mengantisipasi lonjakan kebutuhan gas di tengah meningkatnya aktivitas pariwisata dan dunia usaha di musim pick sesion.
“Krisis ini menunjukkan distribusi elpiji kita masih sangat rentan. Ketika pasokan terlambat sedikit saja, harga langsung melonjak dan masyarakat kecil yang paling terdampak,” ujar Ernaju, seorang pelajau UMKM di Labuan Bajo.
Pendataan Kebutuhan
Pemerintah daerah juga mulai melakukan pendataan kebutuhan riil elpiji melalui Google Form yang ditujukan kepada hotel, restoran, kapal wisata, rumah makan, laundry hingga pelaku usaha lainnya.
Menurut Adrianus, langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh data akurat terkait kebutuhan konsumsi elpiji di Labuan Bajo.
“Pendataan ini penting agar pemerintah memiliki gambaran nyata mengenai kebutuhan elpiji di lapangan, sehingga distribusi dan pengawasan dapat dilakukan lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Namun kebijakan itu juga memunculkan kritik karena pendataan baru dilakukan setelah terjadi kelangkaan dan lonjakan harga di pasaran.
Pengamat lokal menilai persoalan elpiji di Labuan Bajo tidak bisa hanya diselesaikan dengan tambahan pasokan sementara.
Pemerintah dinilai perlu membenahi sistem distribusi dan pengawasan agar krisis serupa tidak terus berulang.
“Labuan Bajo sedang dibangun sebagai destinasi pariwisata premium, tetapi kebutuhan dasar masyarakat seperti gas justru belum stabil. Ini harus menjadi evaluasi serius,” kata Matselo pelaku usaha lokal.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menyatakan akan terus memantau distribusi elpiji guna mencegah kelangkaan serta mengendalikan lonjakan harga di tingkat pasar. (MM/E-4)